Senja Untuk Sang Fajar

“Raga! Kamu rese, aku gak suka!”

“Habis kamu lucu, aku suka.”

Ara membelakangi ku, dia pasti memanyunkan bibir mungilnya. Aku sudah tahu.

Ra, maaf kalau aku jahil. Habisnya aku gak tahan. Kamu terlalu menggemaskan, kamu terlalu lugu, kamu terlalu cantik, kamu terlalu indah untuk jadi seorang manusia. Kadang aku berfikir, kenapa tuhan tak menuangkan sedikit kesalahan saat ia menciptakan kamu. Dia galak, bikin aku gemas. Dia lemah, mudah sakit. Dia tukang ngambek, bikin aku ingin selalu jahilin dia. Dia pendek, kalau di ukur mungkin hanya sebatas gagang sapu ibu ku. Dia juga jutek, dan itu bikin aku makin betah ada di dekatnya. Tolong jadi Senja Asmara yang jutek dan tukang ngambek, jangan jadi Ara yang lemah dan cengeng. Aku benci liat kamu sedih.

“Sudah jangan ngambek lagi, ayo kita makan es krim cokelat di tempat biasa.” Aku menarik tangannya.

“Apasih kamu narik-narik tangan aku!”

Aku tahu dia Cuma pura-pura ngambek. Di belakang ku pasti dia lagi senyum senyum kegirangan.

“Kamu duduk di sini ya, jangan kemana mana nanti tersesat!”

“Aku bukan anak kecil, Raga!”

Aku mengacak-ngacak rambut panjangnya lalu memesan es krim.

“Nih, punya kamu rasa cokelat dan punya ku rasa cokelat stroberi”

“Aku mau stroberi juga.”

Dia mencomot es krim ku dengan wajah tak berdosanya. Detik demi detik waktu yang kami lalui seakan berjalan sangat lambat. Ara sibuk menyendok es krim ke mulut mungilnya sementara es krim di depan ku mencair. Aku tak bisa memalingkan pandangan dari Ara. Matanya indah, warnanya cokelat dengan tahi lalat di bawah garis mata kirinya. Bibirnya merah muda. Hidungnya mungil tapi mancung. Dia memandangi hujan sambil makan es krim. Lalu menyelipkan rambutnya ke belakang  telinga. Matanya berkedip, bulu mata lentiknya seperti kipas. Mulutnya bersenandung kecil. Semua yang dia lakukan selalu indah di mata ku.

“Raga! Hey! Haloooo Naraga Fajaaaaar!”

“Hah, iya, kenapa, ada apa?”

“Bengong terus kamu. Waktu itu burung gereja depan rumah ku bengong, terus besoknya sudah jadi bangkai.”

“Kamu mau aku jadi bangkai?”

“Bukan bukaaan, habis kamu bengong terus”

“Suka-suka aku dong, memang kamu rugi?”

“Capek ngomong sama kamu.”

“Ya sudah jangan ngomong sama aku”

“Oke! Aku gak akan ngomong sama kamu. Hih.”

Aku menyeruput es krim ku yang cair. Gara-gara dia es krim ku jadi seperti susu dingin. Aku meninggalkan Ara untuk membayar es krim. Katanya ngambek, tapi dia tetap ngintilin aku. Aku berjalan jauh di depannya, sementara di belakang sana Ara berjalan semakin lambat. Waktu menunjukan pukul 10 malam, dia pasti sudah ngantuk. Aku menoleh ke belakang, benar saja dia sedang menguap sambil mengucek matanya.

Aku menghampirinya lalu berjongkok, “naik”

“Hah?”

“hah heh hoh, emang aku keong di ‘hah’in!”

“Kamu gak lucu.”

“Rewel, cepat naik. Aku gendong sampe rumah.”

“Aku bisa jalan sendiri.”

“Kamu ngantuk, jalannya lama. Cepat, keburu hujan lagi.”

“Bawel!” Dia ngedumel sambil naik ke punggung ku. Badannya mungil seperti peri, ringan seperti gula-gula kapas.

“Berat banget sih kamu, kaya sapi gelonggongan.”

“Turunin aku sekarang juga!”

“Diam ah! Berisik.”

Ara, bisa tidak kalau kamu berhenti jadi perempuan yang lugu? Aku gak tahan pengen jahilin kamu terus.

Dia terlalu manis dan lugu untuk jadi perempuan berusia 18 tahun. Hatinya terlalu tulus seperti anak kecil berusia 8 tahun. Kadang aku bingung, apa mungkin dia anak-anak yang terperangkap dalam tubuh perempuan dewasa?

“Raga…”

“hah?”

“Ga…”

Aku menoleh untuk melihat wajahnya, “apasih kam….. Ra, hidung kamu berdarah!”

“Turunin aku, aku mau duduk di bangku itu…tolong…” suaranya lirih.

“Astaga, kamu kenapa? Ada yang sakit?”

“Aku gak papa, mungkin karena kedinginan.”

“Sebentar aku cari tisu di warung depan sana, kamu jangan kemana mana!”

Aku berlari secepat yang aku bisa lalu kembali untuk membawa tisu dan sebotol air putih.

“Sini kamu nunduk biar batang hidungnya aku pijit.”

“Maaf ya aku sering ngerepotin kamu sama hal-hal kaya gini.”

“Aku udah biasa nanganin kamu kalau mimisan kaya gini.”

“Terima kasih, Ga.”

“Diam, jangan banyak ngomong.” Dia langsung memanyunkan bibirnya. Aku lagi khawatir, tapi pingin ketawa lihat wajahnya yang cemberut. “Nih minum.”

***

“Senja Asmara,”

“Hah?”

“Hah heh hoh, suka sekali sih kamu kaya orang pongo begitu.”

“Tau ah!”

“Senja Asmara,”

“Apa lagi sih?!”

“Dengerin aku dulu. Lihat matanya kalau orang lagi ngomong.”

“Apa?” Dia tetap tidak menatap ku. Mungkin dia autis.

“Senja Amara. Naraga Fajar. Aku suka nama yang diberikan ayah kamu ke kamu, cocok sama nama yang diberikan ibu ku.”

“Eh? Cocok? Maksudnya?”

“Nama kita saling melengkapi. Fajar tiba tanda untuk memulai hari lalu hadirlah senja untuk menutup hari, sampai saatnya kita kembali menyambut fajar. Fajar hadir untuk sang senja.”

“Eh iya benar juga. Kok bisa ya kita dipertemukan, hehehe lucu juga.”

Kamu benar, Ra. Rencana tuhan memang lucu, kita dipertemukan sebagai Fajar dan Senja. Tapi fajar tiba dan tak pernah bersatu dengan senja, mereka tak ada di waktu yang sama bahkan hanya untuk berpapasan dan saling menyapa.

Ara, mengapa mencintai kamu sesulit ini? Kata orang mencintai dalam diam adalah cinta yang paling tulus. Aku bingung, cinta aku ini cinta yang mana? Aku tidak diam saja, tapi cinta ku ini ditutupi sama kejahilan ku dan bikin kamu kesal. Apa kepolosan kamu bisa lihat cinta dari ku? Aku ingin kamu tahu, tapi aku takut. Aku takut kamu tahu, lalu pergi. Ara kalau nanti kamu tahu, jangan pergi ya. Aku mohon.

“Ra, sudah sore. Ayo pulang.” Kami sering menghabiskan waktu di sini, di pinggir danau dekat rumah kami.

“Sebentar, aku mau nikmati  senja sebentaaaar aja,”

Pandangan matanya jauh ke depan sana. Bibirnya tersenyum tipis.

“Aku suka senja,” ujarnya.

Aku juga, aku suka keduanya. Aku suka senja, dan Senja Asmara. Keduanya indah, kamu dan senja sama sama indah.

Tuhan, biarkan aku menikmati keindahan senja yang kau ciptakan. Biarkan aku menikmati keduanya hanya dengan memandang, tapi untuk Senja yang satu ini aku minta bonus boleh ya? Aku hanya ingin menyentuhnya, menggenggam tangan lembutnya dan memeluk tubuh mungilnya. Oh iya satu lagi, aku cuma ingin tetap ada disampingnya untuk gendong dia kalau dia ngantuk ya Tuhan. Maaf kalau aku banyak minta, tapi tolong doa yang ini harus dibulkan ya Tuhan.

***

Ara, kamu tahu tidak kenapa senja dan fajar tidak ada di waktu yang sama?

Karena keduanya diciptakan Tuhan untuk saling melengkapi walaupun tidak bisa bersatu. Fajar rela pergi untuk hadirnya senja. Dan senja kembali redup demi datangnya fajar. Begitu seterusnya. Fajar yang hangat dan senja yang sejuk, Tuhan memisahkan mereka untuk melengkapi indahnya dunia.

Tapi fajar dan senja mungkin bisa bersatu, seperti kita mungkin? Kalau suatu saat nanti kita bersatu, pasti Tuhan bangga karena ia pada akhinya dapat menyatukan Fajar dan Senja.

***

“Ara, kamu itu makan berapa kali sehari sih? Kok kaya ga tinggi-tinggi dari kita SD?”

“Kamu bilang aku boncel gitu?”

“Loh, aku gak ngomong gitu.”

“Ah aku tahu kamu pasti ujung-ujungnya mau ngeledek aku kan?”

“Iya hahaha, kok kamu tahu?”

“Kamu kan orang paling jahat dan jahil se-Asia Tenggara.”

“Tapi aku jahilnya sama kamu doang kok, kamu mesti bersyukur.”

“Minta di jitak.”

“Gak akan bisa jitak aku, kan tinggi aku 184cm sementara kamu cuma setinggi gagang sapu ibu ku.”

“Raga!!! Kamu rese, aku gak suka!”

“Aduh aduhh iyaa maaf, aww! Aduh! Iya iyaaa maaf.” Dia malah mukulin aku, gak sakit sih. Pukulannya pelan begitu kok. “Huuuuh kecil-kecil tanggannya panas.” Aku mrncubit pipinya yang semerah tomat dan menjadi semakin memerah.

“Aaaaaaw! Sakit tau!”

“Biar saja, habis aku gemas.”

“Tau ah!”

“Iya iya maaf. Eh iya, ada apa kamu manggil aku untuk ke danau?”

“Hmmm…itu…”

Wajahnya yang jutek mendadak berubah. Ada ekspresi yang asing dari wajahnya.

“Ada apa?”

“Aku… harus pergi untuk waktu yang lama, Ga.”

“Pergi? Kemana?”

“Aku gak bisa kasih tau kamu. Aku akan kasih tau kamu kalau aku udah kembali.”

“Aku gak ngerti, Ra.”

“Tolong tunggu aku, Ga. Aku akan kembali secepatnya. Tapi kamu harus janji untuk tunggu aku. Aku mohon.”

“Tapi kamu mau pergi kemana?”

“Aku janji untuk kasih tahu kamu setelah aku kembali.”

Aku hanya bisa menatap matanya. Aku hanya diam. Entah perasaan apa yang ada dalam diri ku, aku sendiri tak tahu apa itu.

Ara memeluk ku. Memeluk ku untuk waktu yang sangat lama. Butuh waktu yang lama sampai akhirnya aku membalas pelukannya. Aku bisa merasakan bajuku basah. Ara menangis. Hal yang paling aku benci, Senja Asmara menangis. Aku melepas pelukannya lalu memegang wajahnya. Tagisannya berbeda dari biasanya. Bukan tangisan karena datang bulan atau karena bertengkar dengan sahabat perempuannya atau pula karena kucing kesayangannya hilang. Kali ini berbeda, ada rasa sakit yang mendalam yang terlihat dari matanya dan dari kerutan di dahinya. Tangisan yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Anehnya kali ini aku tidak benci, hati ku malah sakit seperti hancur berkeping keping melihat dia menangis.

“Kamu kenapa, Ra? Ada apa sebenarnya?”

Dia menghapus air matanya lalu tertawa,”aku gak kenapa napa, aku cuma mau pamit pergi. Kok aku cengeng banget ya mau pisah sama kamu doang. Harusnya aku senang gak ada yang jahilin aku lagi.” Dia tersenyum tapi masih mengeluarkan air mata.

“Tolong jangan nagis, Ra. Aku gak suka liat kamu nangis.”

“Iya aku gak nangis, hehehe. Aku pergi besok ya, Ga.” Dia tertawa tapi tawa itu tak sampai ke matanya. Matanya masih mempelihatkan kesedihan.

“Secepat itu?”

“Maaf aku baru kasih tahu kamu.”

“Biar aku antar kamu sampai berangkat.”

“Gak usah, nanti aku kabari kamu kalau aku mau berngkat.”

“Janji untuk selalu kabarin aku dimanapun dan kemanapun kamu pergi.”

Ara mengangguk lalu memeluk ku untuk yang kedua kali. Pelukannya kali ini berbeda. Lebih erat dari sebelumnya seolah dia akan memeluk ku untuk yang terakhir kali. Dia melepaskan pelukannya lalu tersenyum. Lagi-lagi senyumnya tak sampai ke matanya.

“Raga, aku sayaaaaaaang sekali sama kamu. Dari dulu sampai sekarang kamu laki-laki yang paling aku sayang diantara teman-teman ku yang lain bahkan sahabat-sahabat ku. Kamu sudah seperti kakak laki-laki buat aku.”

Aku terdiam. Aku sayang kamu, bahkan melebihi itu.

Aku membelai pipinya lembut, “aku juga sayang sekali sama kamu, Ra. Entah seberapa besar rasa sayang aku sama kamu. Jangan pergi lama lama, aku mudah rindu.” Dia hanya tersenyum lembut. Ada sedikit ketenangan di matanya.

“Kita masih di bawah langit yang sama, Ga.”
***

Ara, aku rindu kamu. Benar-benar rindu. Kapan kamu kembali? ini sudah bulan ke delapan tapi kamu tidak ada kabar. Kamu hanya kirim surat dua kali. Ara, sumpah demi Tuhan rindu itu menyiksa. Bikin aku jadi seperti orang linglung. Aku jadi sering dimarahi ibu, tapi rasanya beda kalau dimarahi kamu. 

***

Ara, rasanya aku ingin berteriak pada dunia. Kemana ia menyembunyikan kamu? Ini sudah satu tahun lebih, aku harus bertahan berapa lama lagi? Apa boleh aku cari kamu keliling dunia? Tapi aku takut saat aku pergi kamu malah kembali dan gak ada aku disana. Nanti kalau kamu ngambek dan pergi lagi bagaimana? Apa aku harus pesan sama ibu untuk minta kamu tunggu sebentar? 

***

3 tahun kemudian.

Kemana perginya orang orang yang tak kembali?

Kemana perginya jiwa jiwa yang telah mati?

Kemana perginya kenangan yang tak bisa diulangi?

Apa pergi begitu saja?

Ataukah hilang tanpa ada jejak jejak untuk diikuti?

Dimana?

Dimana harus ku temui?

Kemana harus ku ikuti?

Kemana aku harus menghampiri?

Aku hanya rindu

Bolehkah aku minta kau agar berbisik kepada-Nya

Ku mohon turunkan hujan malam ini

Akan ku wakilkan rasa rinduku sebanyak rintik hujan yang meresap ke tanah dan membasahimu di bawahnya

Saat hujan membasahimu, maka percayalah

Semesta menyampaikan rindu ku pada mu


Kamu minta aku untuk nunggu kamu, tapi kamu pergi terlalu lama. Dan sampai akhirnya aku tahu kalau kamu gak akan kembali lagi, Ra. Ya, Ara pergi untuk selama lamanya. Kamu pergi untuk mengobati penyakit mu yang kian memburuk dan sampai akhirnya kamu tidak kembali sama sekali. Kamu bilang akan kasih tahu aku semuanya tapi hanya ayah dan ibu kamu yang kembali untuk kasih tahu aku.

Tuhan benar, ia menciptakan fajar dan senja bukan untuk bersatu. Tapi untuk saling melengkapi. Kita sempat saling melengkapi untuk waktu yang amat singkat tapi Tuhan kembali memisahkan kita untuk waktu yang begitu lama.

Entah siapa yang harus aku benci, Tuhan, kamu atau diri aku sendiri. Tuhan yang telah mepertemukan untuk memisahkan kita, kamu yang pergi begitu saja tanpa ada janji yang di tepati, atau diri ku sendiri yang begitu pengecut tanpa pernah mengungkapkan rasa cinta sama kamu, Ra. Aku pernah bertanya kalau mencintai kamu itu sulit. Tapi mencintai kamu tanpa bisa melihat kamu lagi adalah hal paling menyakitkan dari hidup ku. Kalau saja saat itu aku tahu kamu gak akan kembali lagi, aku gak akan lepas pelukan yang kamu berikan.

Aku membuka surat terakhir yang diberikan Ara sebelum kepergiannhya.


Untuk Naraga Fajar,

Halo Naraga Fajar  tuan jahil se-Aisa Tenggara, apa kabar? Kabar ku cukup tidak baik, hehe. Maaf kalau aku tidak bisa menepati janji ku untuk kembali. Raga, banyak hal yang tidak kamu ketahui. Soal aku, dan soal perasaan ku. Soal aku yang bertarung melawan  sakit yang menyerang tubuhku dan soal perasaan ku yang bertarung melawan sakitnya mencintai kamu saat aku tahu waktu ku tak cukup banyak untuk mencintai kamu lebih lama. Aku tahu bahwa tuhan menciptakan fajar dan senja tidak untuk bersatu. Kejam bukan?hehehe. Maaf kalau tidak pernah bilang cinta sama kamu, tapi percayalah setiap aku bilang “Kamu rese, aku gak suka!” artinya sama dengan aku mencintai kamu. Sudah ah, aku malu ngomongnya sama kamu.

Sebentar lagi rasa sakit ku akan hilang, dan mungkin saat kamu baca surat ini aku sudah tidak merasakan sakit lagi. Yeeeeeey! Selama disini aku rindu dijahili sama kamu, aku rindu ngambek sama kamu, aku rindu digendong sama kamu. Ah, sial! Aku rindu kamu, Naraga Fajar.

Raga, terima kasih ya untuk semuanya. Untuk semua kejahilan dan kebaikan kamu. Untuk semua cinta yang kamu kasih buat aku, aku bisa lihat itu. Aku bisa lihat dari mata kamu. Maaf, kalau aku pura pura buta. Sakit sih, tapi akan lebih sakit kalau terlalu lama natap mata kamu. Ga, aku boleh minta satu hal? Tolong jangan bersedih ya, aku bisa lihat kamu kalau kamu sedih. Aku benci itu. Janji untuk tersenyum di setiap fajar hingga senja datang ya! Oh ya! Jangan lupa sambut aku setiap senja di danau biasa ya! Aku akan tunggu kamu di sana;) 

Dari aku, Senja Asmara yang mencintai kamu tanpa rasa sakit lagi.

Meski kita sudah tak lagi berada di bawah langit yang sama aku tidak akan berhenti mencintai kamu, Senja Asmara yang ternyata tidak selemah dugaan ku. Ara yang begitu kuat dan dewasa. Aku akan terus mencintai kamu, aku akan tetap mencintai Senja Asmara dan juga senja. Hanya senja satu-satunya cara Tuhan dapat mempertemukan Naraga Fajar dengan senja meski itu bukan Senja Asmara yang ku minta pada Tuhan. Fajar yang hangat dan senja yang sejuk, Tuhan memisahkan mereka untuk melengkapi indahnya dunia. Fajar masih disini, sementara Senja di atas sana dengan wajah cantiknya hadir untuk menghiasi indahnya surga.

Senja pun tiba. Aku memejamkan mata sambil duduk menghadap danau. Mengingat kenangan kenangan yang pernah aku lewati bersama Ara, memutar kembali percakapan percakapan konyol yang dapat membuat dia cemberut dan memanyunkan bibirnya. Aku hanya bisa mengembuskan nafas ringan sambil tersenyum, sesekali menitikkan air mata tetapi aku bergegas menghapusnya. Takut ketahuan Ara.

“Dasar boncel,” aku bergumam.

“Raga! Kamu rese, aku gak suka!”

Aku membelalakan mata lalu menoleh ke kanan dan kiri. Astaga!

Aina Dina Cisara


Inspirasi:

Gay Back to Normal by LittleSunshine_

AmbaraKawa by 9996

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s